Sejahtera Itu Hak, Kaukus Kemitraan Independen Untuk Pencapaian Kesejahteraan, KKIPK, Undang Undang Desa, Kemiskinan, Dana Desa, Pendamping Desa, BUMDes, Pemerintahan Desa, Sistem Informasi Desa, Kesejahteraan, Gerakan Desa SAPA INDONESIA - ALIANSI STRATEGIS MELAWAN PEMISKINAN

Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

KEBIJAKAN PANGAN PEMERINTAH PICU BERTAMBAHNYA ANGKA STUNTING

KEBIJAKAN pangan pemerintah dapat memengaruhi bertambahnya angka penderita stunting di Indonesia. Selama ini, secara umum kebijakan pangan pemerintah fokus pada pencapaian swasembada pangan, yang justru berpotensi mendorong harga komoditas pangan semakin tinggi.

Stunting adalah kondisi di mana balita mengalami kekurangan gizi yang menyebabkan rasio tinggi badan terhadap umur mereka jauh lebih rendah daripada angka rata-rata pada anak seumurnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2018, jumlah anak penderita stunting di Indonesia berjumlah 30,8 persen dari total jumlah anak. Hal ini sama dengan tiga dari 10 balita di Indonesia terkena dampak stunting.

Stunting pada balita diakibatkan oleh berbagai sebab, tiga di antaranya adalah buruknya kondisi gizi dan kesehatan ibu sebelum, sedang dan setelah hamil, rendahnya asupan makanan ke balita, terkhusus rendahnya kuantitas, kualitas, dan variasi komponen gizi dan adanya infeksi.

Saat ini, lanjutnya, Indonesia merupakan negara dengan prevalensi stunting tertinggi keempat di dunia berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018.

"Kalau terus dibiarkan, stunting dapat berdampak pada terganggunya produktivitas perekonomian seperti hilangnya 11 persen PNB (Produk Nasional Bruto) (Horton dan Steckel, 2013), hilangnya pendapatan dewasa sebesar 20 persen dan juga meningkatkan kemungkinan jatuh miskin sebesar 33 persen," urainya.

Hasil penelitian CIPS menunjukkan, secara umum, kenaikan harga pangan berpengaruh secara signifikan terhadap menurunnya tingkat konsumsi. Kenaikan harga pangan sebesar Rp 1.000 akan berpotensi mengurangi konsumsi beras rumah tangga per kapita bulanan sebesar 0,67 kg.

Ia menambahkan, rata-rata harga beras lokal dan internasional terpaut berbeda sebesar Rp 5109,18. Jika harga beras lokal sama murahnya dengan harga beras internasional, maka tingkat konsumsi dapat berpotensi ditambahkan sebanyak 3,43 kg.

Selain itu, secara umum, penurunan tingkat konsumsi pangan berpengaruh secara signifikan terhadap kenaikan probabilitas suatu rumah tangga memiliki anak stunting. Penelitan CIPS memberikan contoh, misal dengan berkurangnya konsumsi daging sapi sebesar 1 kg akan meningkatkan probabilitas rumah tangga untuk memiliki anak stunting sebesar 1,52 persen.

"Konsumsi daging sapi per kapita di Indonesia relatif rendah yaitu sebesar 2,399 kg dibandingkan dengan Filipina yang sebesar 3,25 kg dan Malaysia yang sebesar 4,8 kg. Kalau konsumsi daging sapi di Indonesia dapat menyamai angka tersebut, maka hal itu dapat menurunkan probabilitas stunting sebesar 0,41% dan 0,6% secara berurutan," jelas Ilman.

Sumber: Suara Merdeka dot com

Terpopuler

Terbaru

PENGELOLAAN DATA PENTING DALAM PEMBANGUNAN DESA

PENGELOLAAN DATA PENTING DALAM PEMBANGUNAN DESA

PENGELOLAAN data menjadi hal yang penting untuk mempercepat...
JOKOWI BUKA MUSRENBANGNAS RKP 2020 FOKUS PENGEMBANGAN SDM

JOKOWI BUKA MUSRENBANGNAS RKP 2020 FOKUS PENGEMBANGAN SDM

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla...
PENGANGGURAN PALING BANYAK DI JAWA BARAT CAPAI 527.000 ORANG

PENGANGGURAN PALING BANYAK DI JAWA BARAT CAPAI 527.000 ORANG

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka...
JUMLAH PENGANGGURAN RI TURUN JADI 6,82 JUTA ORANG

JUMLAH PENGANGGURAN RI TURUN JADI 6,82 JUTA ORANG

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook