Terhubung SAPA

Agenda

Data Kemiskinan

Hubungi Kami

Video

Fotografi

HANYA DIBERI ASI, BAYI MENINGGAL KARENA GIZI BURUK

pemiskinan-sapa-giziburuk

SAPA - Wajah yang dirundung duka dan sedih masih tergambar jelas dari muka Sri Wahyuni, ibu Nurul Fitri,bayi penderita gizi buruk yang meninggal dunia,Selasa (8/1) lalu. Belitan kemiskinan membuat bayi berusia empat bulan tersebut tidak dapat ditangani secara cepat oleh petugas medis.

Persoalan kecil hanya karena tidak memiliki uang untuk membayar transportasi, bayi malang tersebut harus meregang nyawa.Saat meninggal,Nurul Fitri tercatat hanya memiliki berat 3,4 kilogram (kg) atau nyaris seperdua dari berat ideal yang seharusnya 6 kg untuk bayi seusianya. Sri Wahyuni mengaku, selama dirawat sekitar satu bulan di kediaman keluarga Jalan Sunu II Lorong 24, Makassar,Nurul Fitri hanya diberi Air Susu Ibu (ASI) dan air putih.

Sementara,asupan gizi berupa susu formula, hanya sesekali diberikan jika ada bantuan tetangga yang iba. Kondisi Nurul diperparah dengan penyakit anoreksia atau memiliki kelainan pencernaan karena tidak memiliki langit-langit di dalam mulut."Cuma diberi air putih sama ASI saja.Tidak ada makanan tambahan.Mau di bawa ke rumah sakit,saya juga tidak punya uang untuk biaya mobil,"jelasnya saat SINDO bertandang ke kediamannya, kemarin.

Sri Wahyuni mengaku sudah berpisah dengan suaminya,Askar,sejak November 2012 lalu.Sejak saat itu pula,dia terpaksa membawa putrinya,Fitri ke Makassar.Wahyuni juga meninggalkan suaminya di Kelurahan Balleangin,Balocci Pangkep,pertengahan November 2012.Bahkan suami Wahyuni,Askar,tidak datang saat putrinya meninggal.

Dari pantauan SINDO, keluarga tersebut tergolong sangat miskin.Nenek Nurul Fitri,Mariama yang seharihari berjualan barang campuran di ujung gang rumahnya,harus menafkahi 14 anggota keluarga yang tinggal dalam rumah kecil berukuran 5x6 meter. Ada ibu,enam anak,dua cucu,dan empat ponakan, yang menunggu dinafkahi. Sementara,Wahyuni bekerja serabutan sebagai pemilah cabe pada sebuah pedagang besar yang tidak jauh dari situ.

Dalam rumah sempit itu, pakaian anggota keluarga tergelantung dimana-mana, sebagian berserakan di lantai. Plafon rumah dari rapat juga sudah terurai karena termakan usia.Demikian juga dengan dinding rumah yang terbuat dari kayu dimanamana terlihat tempelan. "Beginilah rumah kami, kalau hujan kami kumpul diruangan kecil yang lebih tinggi.Kadang tidur duduk karena tidak muat,"ujar Mariama.

Dia mengaku sudah sembilan tahun menumpang di rumah orang tua,Dg Sunggu.Sebelumnya dia tinggal di Tonasa II Kecamatan Balocci,Pangkep.Namun dia pindah ke Makassar karena berpisah dengan suaminya, Wahyudin,salah seorang pegawai Semen Tonasa. Mariama mengemukakan, mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Dia baru lima kali menerima bantuan PKH selama satu tahun terakhir. "Kami masuk PKH atas namanya ibu (Dg Sungguh). Pertama kami dapat Rp350.000,tapi sekarang tinggal Rp200.000. Kalau tidak salah,kami sudah lima kali dapat,"ucapnya.

 

SEPUTAR INDONESIA. SUPYAN UMAR
Makassar

Terpopuler

Terbaru

KOLABORASI KAWASAN PERDESAAN TINGKATKAN NILAI PRODUK UNGGULAN

KOLABORASI KAWASAN PERDESAAN TINGKATKAN NILAI PRODUK UNGGULAN

SAPA INDONESIA - BERBAGAI program digulirkan sebagai bentuk...
MENINJAU RENCANA KENAIKAN DANA DESA

MENINJAU RENCANA KENAIKAN DANA DESA

SAPA INDONESIA - PEMERINTAH berencana menaikkan anggaran dana...
BEGINI FORMULA ATURAN PEMBAGIAN DANA DESA PADA 2018

BEGINI FORMULA ATURAN PEMBAGIAN DANA DESA PADA 2018

SAPA INDONESIA - DIREKTUR Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian...
DESA BAKAL DAPAT MAKSIMAL DANA RP 3,5 MILIAR TAHUN DEPAN

DESA BAKAL DAPAT MAKSIMAL DANA RP 3,5 MILIAR TAHUN DEPAN

SAPA INDONESIA - MENTERI Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati...

LAPOR!

Untitled Document

Terhubung dengan SAPA

Multimedia

Temukan Kami di Facebook